HARI PAHLAWAN


Hari ini tanggal 10 November 2011. 66 Tahun yang lalu sebuah pertempuran besar terjadi di Surabaya, Jawa Timur, antara Indonesia dengan Belanda dan sekutunya Inggris. Pertempuran disulut oleh ultimatum yang dikeluarkan pihak Belanda yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945. Ultimatum ini menghina pemerintah Indonesia itu dengan cepat menyulut kemarahan para pejuang, maka terjadilah pertempuran besar tersebut. Bung Tomo merupakan salah seorang pejuang Indonesia yang dengan gagah berani membangkitkan api perjuangan para pejuang-pejuang kemerdekaan. Seluruh elemen masyarakat ikut ikut berjuang melawan Belanda dan sekutunya yang terjadi di seluruh kota surabaya. Pertempuran yang memakan banyak korban jiwa baik dari para pejuang maupun rakyat sipil, dan hingga saat ini hari itu dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Hingga kini perjuangan itu tidak belum berakhir, namun telah berubah kedalam bentuk perjuangan yang lain. berjuang tidak dengan mengangkat senjata seperti bambu runcing ataupun senapan. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan yang telah dengan gagah berani mempertaruhkan jiwa dan raga mereka dimasa lalu. Salah satunya adalah dengan berkarya, melakukan hal-hal positif yang membangun baik untuk diri sendiri terutama untuk kepentingan bersama, kepentingan bangsa dan negara. Namun kita harus tetap berhati-hati karena selalu ada pihak-pihak yang dengan sengaja dengan memanfaatkan "rasa kebangsaan" kita itu untuk mengadu domba dengan bangsa lain seperti dengan negara tetangga. Hal ini sangat sensitif, dan kerap kali digunakan oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan perpecahan didalam tubuh bangsa dan negara kita. 

Lalu bagaimana caranya agar kita tidak mudah diada domba oleh pihak ketiga tadi? adalah dengan menanamkan sikap sabar, ikhlas dan bijaksana didalam diri kita masing-masing. Kita harus memahami secara universal manusia itu sama, memiliki hak dan kewajiban yang sama. Perbedaan suku, bahasa, lokasi geografis, warna kulit, bangsa dan negara tidak boleh menjadi alasan untuk mendeskriminasikan satu dengan yang lainnya. Coba bayangkan jika anda lahir sebagai seorang afrika, maka kulit anda tentunya hitam, berbahasa afrika, jika anda lahir sebagai orang china maka kulit anda putih dan berbahasa china. Seseorang tidak memilih dimana dan kapan ia dilahirkan akan tetapi begitu ia lahir didunia maka ia menjadi satu dari dari milyaran manusia yang ada dimuka bumi. Banyak hal positif yang bisa kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan, misalnya dengan bekerja, baik bekerja sendiri atau wirausaha ataupun bekerja sebagai karyawan. Bekerja lebih baik dari pada menganggur, ini jelas dan menurut saya termasuk dalam kategori malkukan hal positif yang bisa kita lakukan untuk bangsa kita. 

Dari data BPS bulan Agustus 2011 sebelas menunjukkan angka pengangguran di Indonesia sebesar 6,56 % menurun dibandingkan dengan bulan februari 2011 sebesar 7,14 % . Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia mengalami peningkatan dalam hal partisipasi dalam pembangunan. Berikut adalah pendapat dari sahabat saya yang kebetulan saat saya menulis tulisan ini lagi Online disalah satu media sosial, berikut kutipannya,

"orang sekarang dah gak penting lg ngingat jasa pahlawan, manusia sekarang udah menjadi egois dan materialistis....... Kumpulkan uang sebanyak2nya....... pergunakan hukum rimba, yg kuat yg menang..." 

"salah satunya itu beng..... kl di jalan raya, yg mobilnya bagus suka ugal2an, kebut2an, buang sampah dari dalam moblnya kayak jalan raya itu tong sampah bapak moyangnya..... gak perduli dengan pemakai jalan yg laen... org kaya yg buat salah di biarkan, kl orang miskin di uber2.... makanya orang mau jd orang kaya sekarang, dah gak mau lg jd orang baik..." 

mmm...saya tidak bisa memungkirinya, karena bukan saya saja, semua orang menyaksikan hal ini. Gaya hidup yang egois dan materialistis merupakan benih yang bisa tumbuh menjadi perpecahan dan sebuah masyarakat kita yang multikultur ini. Seorang kaya raya yang kikir yang tinggal disebuah rumah gedongan dengan pagar setinggi 4 meter, bahkan atap rumah tetangganya yang sederhana pun tidak terlihat olehnya. Apalagi untuk bersedekah ataupun berbagi kepada sesama, tapi tidak semuanya seperti itu.Jadi lakukanlah hal positif mulai dari diri sendiri dan tularkan kepada orang lain.

Terjemahkan artikel ke bahasa lain

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Game Mancing Buatan Lokal di Play Store

 Semenjak OS android menguasai pasar smartphone dunia memberikan peluang bisnis baru bagi developer baik game maupun aplikasi. Di Indonesi...